Legenda

Informasi Umum

Konsultasi Publik Dibuka

Kamu yang tinggal atau memiliki kepentingan di lokasi ini, klik disini untuk memberikan gagasan kamu sekarang!"

RDTR Kawasan Perkotaan Sentani di Kabupaten Jayapura

Penataan Ruang berbasis mitigasi bencana dapat dimaknai sebagai Penataan Ruang yang diposisikan sebagai salah satu upaya atau instrumen dalam hal Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction/DRR). Salah satu bencana yang terjadii  adalah bencana banjir bandang yang melanda Provinsi Papua yang mana berada di Distrik Sentani. Banjir tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 183 orang, dengan perhitungan 104 korban meninggal dunia dan 79 orang hilang serta ratusan orang menderita kerugian material yang cukup besar. Secara umum, banjir yang melanda beberapa wilaya di Indonesia merupakan bencana dari kombinasi antara faktor alam dan faktor antropogenik. Faktor utama banjir adalah curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama. Adapun faktor lain yang memberikan kontribusi terhadap bencana banjir yaitu lemahnya pengawasan terhadap penggunaan lahan (landuse) pada zona-zona yang rentan bencana banjir sehingga terjadinya konversi bagian hulu Daerah Aliran Sungai yang menyebabkan berkurangnya daya tanah dalam menyerap air. Disisi lain, Banjir Bandang bukan hanya membawa air mengalir dari hulu menuju hilir melainkan membawa bongkahan – bongkahan batuan besar dan juga pepohonan yang berada di hulu sehingga mengakibatkan risiko bencana yang masif.

Wilayah Papua, khususnya Provinsi Papua telah diidentifikasikan sebagai salah satu wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Indonesia (Supartoyo dkk., 2014). Sejarah mencatat bahwa wilayah Papua paling tidak telah mengalami sebanyak lima  kejadian gempabumi merusak sejak tahun 2002. Beberapa kejadian gempabumi merusak tersebut telah mengakibatkan terjadinya tsunami, seperti kejadian gempabumi Ransiki tahun 2002. Disisi lain bencana akibat longsor akibat curah hujan tinggi serta bahaya ikutan berupa longsor juga tercatat beberapa kali terjadi di Provinsi Papua khususnya di wilayah dengan kelerengan tinggi dan jenis tanah mudah jenuh. Salah satu bencana tersebut adalah bencana banjir bandang di distrik sentani yang terjadi di tahun 2019, dimana kejadian bencana ini memakan banyak korban jiwa, tercatat 89 orang tewas, 159 luka dan 74 orang dinyatakan hilang.

Banjir Bandang di Distrik Sentani yang terjadi pada hari sabtu 16 maret 2019 ini diduga disebabkan oleh deforestasi di Pegunungan Cycloop yang berada di bagian utara 10 km dari kawasan terdampak. Faktor alam pun juga dipengaruhi oleh kejadian curah hujan dengan intensitas ekstrem yang terjadi dibagian hulu Dareah Aliran Sungai (DAS) Sentani Tami. Faktor non alam akibat aktivitas manusia adalah terjadinya alih fungsi lahan secara masif pada kawasan hulu yang berfungsi sebagai kawasan lindung, dari tutupan lahan tegakan hutan menjadi lahan tegalan/ladang.Banjir bandang Distrik Sentani ditetapkan sebagai tanggap darurat bencana dinyatakan melalui surat pernyataan tanggap darurat bencana banjir bandang Kabupaten Jayapura bernomor 360/45/sp/st pada 16 Maret 2019. Penetapan status tersebut untuk mengoptimalkan penanganan korban banjir.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR) disusun dan ditetapkan dengan menimbang bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berada pada kawasan rawan bencana, sehingga diperlukan penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan (konsideran menimbang huruf e). Kemudian Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (UUPPB), diatur bahwa mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran, dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, atau dengan kata lain, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi risiko bencana yang di antaranya melalui integrasi aspek pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan, termasuk ke dalam rencana tata ruang wilayah. Pengarusutamaan aspek pengurangan risiko bencana merupakan invetasi pembangunan yang akan sangat dirasakan pengaruhnya pada jangka panjang, untuk mengurangi kerugian di masa depan akibat bencana. Sehubungan dengan hal tersebut, pada tahun 2020 Direktorat Jenderal Tata Ruang c.q. Direktorat Penataan Kawasan melakukan kegiatan “Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di Distrik Sentani, Provinsi Papua” untuk meningkatkan kualitas tata ruang sekaligus mengurangi risiko bencana di Distrik Sentani, Provinsi Papua.

Hai! Apa Gagasanmu?

Punya pertanyaan lebih seputar Rencana Tata Ruang maupun Konsultasi Publik Online ? Silahkan hubungi kami via Whatsapp. Kami akan bantu memberikan informasi yang kamu butuhkan

Kami Hadir di Whatsapp
×
Kami hadir di sini